+62 856-4080-0744 antarejatour@gmail.com

Jika di Jogja terdapat desa wisata Kasongan sebagai sentra produk kerajinan gerabah dan desa wisata Manding sebagai sentra produk kerajinan yang terbuat dari kulit sapi, di Boyolali berbeda. Desa wisata Cepogo yang terletak di sekitar lereng merapi ini merupakan sentra kerajinan produk tembaga dan kuningan. Ini hal yang tidak biasa, karena pada umumnya masyarakat sekitar lereng merapi biasanya menggantungkan hidupnya dengan perkebunan dan pertanian.

Sebagai desa wisata, sentra kerajinan produk tembaga dan kuningan ini bisa dikunjungi oleh para wisatawan. Di sini wisatawan akan melihat berbagai showroom produk kerajinan serta dapat mengetahui proses pembuatannya. Selain itu tentu saja dapat membeli dan membawa pulang ke tempat asalnya.

Sejarah Desa Wisata

Cepogo, sumber ig @ariff.syaif
Cepogo, sumber ig @ariff.syaif

Sejarah kerajinan tembaga cepogo ini tidak lepas dari sejarah Desa Cepogo sendiri. Terdapat sebuah dukuh yang disebut Tumang. Tumang berasal dari sebutan Hantu Tumamang yang menurut kepercayaan masyarakat setempat pada waktu itu merupakan roh halus yang tampak saat prosesi pembakaran mayat. Kepercayaan dan prosesi ini masih lekat dengan pengaruh Hindu sebagai kepercayaan sebagaian besar masyarakat pada waktu itu.

Dukuh Tumah yang berada di Desa Cepogo dan menjadi pusat pemerintahan desa pada waktu itu. Suatu ketika, sekitar tahun 1930 M, penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat, Pakoe Boewono X mencari salah satu pusaka keratonnya yang hilang. Menurut penasehat Raja, pusaka keraton ini kemungkinan berada di Tumang.

Maka, Pakoe Boewono X beserta prajurit berusaha melacak pusaka ini ke Dusun Tumang. Usaha ini dilakukan dengan mengadakan ritual cara keraton. Pada saat Raja mengambil pusaka yang telah ditemukan, Raja memperhatikan aktivitas penduduk Tumang.

Para penduduk Tumang pada waktu itu bekerja, salah satunya sebagai jasa perbaikan peralatan rumah tangga. Pada saat itu peralatan rumah tangga seperti alat-alat dapur terbuat semuanya dari tembaga. Dari sinilah kemudian penduduk setempat dikenal sebagai pengrajin tembaga.

Produk Kerajinan Tembaga, sumber : Koleksi Pribadi
Produk Kerajinan Tembaga, sumber : Koleksi Pribadi

Sebelum beranjak, Raja Pakoe Boewono tidak lupa memberikan nasehat kepada penduduk, “WIS TERUSNO, BESUK BAKAL DADI DALAN REJEKIMU”. Nasehat ini dipahami dan mendorong para penduduk untuk mengetahui cara memproduksi kerajinan tembaga bahkan hingga generasi anak cucunya sekarang. Di Desa Cepogo saat ini akan terlihat banyak tempat yang memamerkan produk kerajinan tembaga.

Jika dulu produk-produk tembaga yang ada berkisar antara peralatan dapur dan rumah tangga, maka sekarang berbeda. Hal ini didorong persaingan yang ketat karena terdapat banyak produksi peralatan dapur dan rumah tangga yang berbahan baku lebih murah. Sehingga para pengrajin berinovasi memproduksi kerajinan dalam bentuk lainnya.

Sedangkan menurut versi lainnya, Keberadaan Desa Tumang sebagai sentra kerajinan tembaga, tidak lepas dari sosok Pangeran Rogosasi yang merupakan salah satu anak dari Raja Mataram Kuno. Menurut cerita daerah setempat, Pangeran Rogosasi diasingkan ke lereng Gunung Merapi karena memiliki cacat tubuh dengan kondisi wajah yang buruk. Pangeran Rogosasi dititipkan dan dirawat Kyai Wonosegoro hingga dewasa dan dapat hidup mandiri.

Setelah Pangeran Rogosasi mampu mandiri, kemudian beliau merintis dan membangun sebuah wilayah yang diberi nama Desa Tumang. Untuk mengembangkan wilayahnya, ia dibantu oleh empat abdi keraton untuk menjadi “guru” bagi warga desa. Masing-masing abdi tersebut memiliki keahlian berbeda. Ada yang pandai membuat keris sekaligus kerangkanya, ahli membuat pakaian dari bahan perak, ahli dalam menjahit, dan ahli dalam membuat peralatan dapur dari bahan tembaga.

Dari keempat keahlian yang diajarkan para abdi dalem keraton pada warga Tumang tersebut, hingga kini masih tetap lestari. Di Desa Tumang sendiri, selain terkenal dengan kerajinan tembaga dan kuningan, disini juga masih ada beberapa warga yang menekuni membuat warangka keris, kerajinan perak, dan bekerja di produksi garmen.

Lokasi Sentra Kerajinan

Jika Anda sudah pernah ke Boyolali, sebenarnya menuju sentra kerajinan tembaga ini mudah. Cepogo dapat dicapai dari Boyolali atau dari Ampel. Jalan ke Cepogo cukup menanjak. Jika terus lagi, akan sampai ke Selo. Selo terletak di kaki gunung Merapi sebelah timur.

Copper Leluhur

Copper leluhur sebagai salah satu pengrajin kerajinan tembaga yang berada di sentra yang juga desa wisata Tumang, kecamatan Cepogo, kabupaten Boyolali bukan hanya bisa melayani pembuatan lampung dinding tembaga, namun juga berbagai produk kerajinan tembaga lainnya. Berbagai produknya juga sudah dipesan dari berbagai tempat di Indonesia.

Pengrajin tembaga di sini dikenal dengan pengerjaannya yang manual menggunakan tangan. Sehingga, desain artistik dari setiap produk bisa lebih detil dan diperhatikan dalam proses pembuatannya. Selain itu, pengrajin di sini juga sudah terampil, sehingga pengerjaan manual tidak mengurangi kualitas produknya.

Untuk Anda yang ingin memesan berbagai produk kerajinan tembaga seperti peralatan dapur dan makan, ornamen atau hiasan untuk bangunan, kubah masjid, replika pintu masjid nabawi, hiasan lampu untuk gedung dan rumah, bathtub, patung, logo/lambang dan berbagai produk kerajinan lainnya, kunjungi alamat yang tertera di halaman copperleluhur.com. Produk-produk yang pernah terjual juga ada dan bisa dilihat di halaman websitenya.

Itu dia ulasan seputar desa wisata yang merupakan sentra kerajinan tembaga dan kuningan di Cepogo, Boyolali. Berkunjung ke desa wisata memang salah satu alternatif wisata yang menarik, edukatif dan menyenangkan. Karena para wisatawan dapat melihat langsung cara hidup masyarakat setempat serta berbagai produk kerajinannya yang khas dan bernilai.

Semoga ulasan ini dapat menambah wawasan kita tentang berbagai daerah wisata menarik di Indonesia. Simak berbagai ulasan menarik lainnya mengenai berbagai spot desa wisata menarik di Jogja. Jika terdapat pertanyaan, saran dan kritik, silahkan isi di kolom komentar yang tersedia.